Akibatnya, kadar gula darah melonjak tiba-tiba karena pankreas harus melepaskan insulin dalam jumlah besar untuk menyeimbangkannya. Jika hal ini terjadi secara berulang, tubuh berisiko mengalami resistensi insulin, yang dapat meningkatkan potensi diabetes tipe 2 dan gangguan metabolik lainnya.
Makan berlebihan berisiko membuat kita mengonsumsi kalori dalam jumlah berlebihan. Kalori yang tidak digunakan sebagai energi akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak, terutama jika berasal dari karbohidrat sederhana atau lemak.
Akumulasi lemak ini dapat meningkatkan risiko obesitas dan berbagai masalah kesehatan lainnya.
Kebiasaan makan berlebihan dapat mengganggu pengaturan rasa lapar. Rasa lapar diatur oleh hormon ghrelin dan rasa kenyang diatur oleh hormon leptin.
Ketika kita tidak makan dalam waktu lama, kadar ghrelin meningkat. Setelah mendapatkan makan dengan cukup, kadar leptin meningkat.
Makan berlebihan, terutama makan makanan yang tinggi lemak, garam, atau gula, akan mengganggu keseimbangan hormon tersebut. Jenis makanan itu memicu pelepasan hormon dopamin yang menimbulkan rasa senang.
Kebiasaan makan makanan tersebut secara berlebihan, tubuh akan ketagihan dan lebih mengutamakan untuk mendapatkan kenikmatan daripada fokus memenuhi rasa lapar.
Baca Juga: Presiden Prabowo Kunjungi Korban Banjir Bekasi, Beri Dukungan Moril dan Buka Puasa Bersama
Dampak buruk makan berlebihan selanjutnya adalah mengganggu fungsi otak. Beberapa penelitian menghubungkan kebiasaan makan berlebihan dan obesitas dengan penurunan mental pada orang lanjut usia.
Kebiasaan ini juga terbukti menurunkan memori, khususnya pada orang dengan obesitas.
Bagikan perspektif Anda, sumbangkan wawasan dari keahlian Anda, dan berkontribusilah dalam memperkaya pemahaman pembaca kami.
Sumber : Healthline
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.