Kompas TV internasional kompas dunia

Pendukung Yoon Suk-Yeol Takut Kim Jong-Un Akan Kuasai Korsel jika sang Presiden Dimakzulkan

Kompas.tv - 20 Februari 2025, 19:54 WIB
pendukung-yoon-suk-yeol-takut-kim-jong-un-akan-kuasai-korsel-jika-sang-presiden-dimakzulkan
Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol berbicara dalam konferensi pers bersama Presiden Polandia Andrej Duda di Seoul, Kamis (24/10/2024). (Sumber: Jeon Heon-Kyun/Associated Press)
Penulis : Haryo Jati | Editor : Edy A. Putra

SEOUL, KOMPAS.TV - Ketakutan muncul di kalangan pendukung Presiden Korea Selatan (Korsel) Yoon Suk-yeol jika ia sampai dimakzulkan. Para pendukungnya meyakini jika Yoon dimakzulkan, Korea Selatan akan menjadi satu dengan Korea Utara dan dikuasai Kim Jong-un.

Hal itu diungkapkan pendukung Yoon yang melakukan demonstrasi di depan Gedung Mahkamah Konstitusi Korsel di Seoul pada Januari lalu.

“Jika Presiden dimakzulkan dan pemimpin oposisi terpilih, negara kita akan menjadi satu dengan Korea Utara dan Kim Jong-un,” ujar salah satu demonstran, Shin Jeong-min, seperti dilansir BBC, Kamis (20/2/2025).

Pendapat Shin itu merupakan teori yang populer di kalangan pendukung fanatik Yoon Suk-yeol. Mereka meyakini para pemimpin oposisi bersatu dengan Korea Utara (Korut) dan ingin menjadikan Korsel negara komunis.

Ketika mendeklarasikan Darurat Militer di awal Desember 2024, Yoon Suk-yeol menyebarkan ketakutan tersebut untuk membenarkan keputusannya.

Tanpa bukti, ia mengeklaim kekuatan komunis Korut telah menyusup ke dalam tubuh partai oposisi, dan mencoba menjatuhkan Korsel.

Baca Juga: Tentara Korea Utara yang Ditangkap Ukraina Bisa Lega, Bakal Dapat Perlindungan dari Korea Selatan

Ia menyerukan, partai oposisi harus dibasmi, dan melarang aktivitas politik, serta menyerahkan tanggung jawab kepada militer.

Dua bulan setelah kudeta gagal Yoon Suk-yeol itu, ketakutan terhadap komunis mencengkeram para pendukungnya baik yang tua maupun muda.

Bahkan mereka yang tak pernah memikirkan Korea Utara atau komunisme, kini mulai ketakutan jika demokrasi mereka akan berubah menjadi kediktatoran kiri.

“Ini merupakan perang antara komunisme dan demokrasi,” ujar salah satu pegawai kantoran berusia 40 tahunan.

Kami memberikan ruang untuk Anda menulis

Bagikan perspektif Anda, sumbangkan wawasan dari keahlian Anda, dan berkontribusilah dalam memperkaya pemahaman pembaca kami.

Daftar di sini



Sumber : BBC

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE



KOMPASTV SHORTS


Lihat Semua

BERITA LAINNYA



FOLLOW US




Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.


VIDEO TERPOPULER

Close Ads x