“Naluri bertahan hidup adalah satu hal, tetapi ada juga tekanan dari atas,” kata sumber tersebut.
Sebelumnya, warga lokal kerap menunjukkan simpati terhadap para tentara yang kelaparan dan bertugas jauh dari rumahnya.
Namun, seiring meningkatnya pencurian dan menjadi semakin tida pandang bulu, simpati itu menguap.
“Orang-orang dulu mengasihani mereka, tetapi sekarang yang ada hanya kemarahan, mungkin karena mereka telah menyebabkan terlalu banyak kerusakan,” ujar sumber itu.
“Banyak yang mengatakan hanya melihat seorang tentara Korea Utara kini telah membuat darah mereka mendidih,” tambahnya.
Prosedur standar mengharuskan polisi setempat mendokumentasikan kasus sebelum keamanan militer mengambil alih.
Namun, pencuri yang merupakan prajurit jarang menghadapi hukuman nyata.
Kurangnya akuntabilitas terhadap para prajurit telah mendorong warga untuk menegakkan keadilan mereka sendiri melalui pemukulan.
“Ini merupakan pelampiasan kemarahan masyarakat terhadap tentara yang menjadikan pencurian sebagai kebiasaan mereka,” katanya.
“Melihat pencuri-pencuri ini dipukuli membuat masyarakat puas,” tambah sumber tersebut.
Baca Juga: Hacker Korea Utara Dituduh Lakukan Pencurian Kripto Terbesar Sepanjang Sejarah, Sabet Rp23,8 Triliun
Namun, respons main hakim sendiri yang dilakukan para warga tersebut juga mengandung risiko.
“Bahkan jika tentara menganggap pemukulan sebagai pembelaan diri warga sipil yang dibenarkan, masyarakat tetap akan menghadapi dakwaan jika tentara itu tak bisa melakukan tugasnya karena cedera,” ujar sumber tersebut.
Tiga tentara Korea Utara yang baru-baru ini harus melakoni rawat inap karena cedera membuat warga setempat mencurigai militer sengaja membesar-besarkan insiden itu.
Bagikan perspektif Anda, sumbangkan wawasan dari keahlian Anda, dan berkontribusilah dalam memperkaya pemahaman pembaca kami.
Sumber : Daily NK
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.