BANGKOK, KOMPAS.TV - Angkatan Darat Kerajaan Thailand melaporkan sebanyak 260 orang yang diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) telah diselamatkan di Myanmar.
Sebanyak 260 warga negara asing tersebut telah diseberangkan ke Thailand dan rencananya akan direpatriasi.
Ratusan WNA tersebut diduga menjadi korban perbudakan di industri penipuan daring Myanmar. Terdapat WNI yang turut menjadi korban dan telah diseberangkan ke Thailand.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Kamis (13/2/2025), Angkatan Darat Thailand mengaku sedang berkoordinasi tentang repatriasi 260 korban TPPO tersebut.
Para korban telah diseberangkan dari Myawaddy, Myanmar ke Provinsi Tak di Thailand pada Rabu (12/2).
Baca Juga: 21 WNI Korban TPPO di Myanmar Kembali ke Tanah Air
Otoritas Thailand melaporkan para korban berasal dari 20 negara, kebanyakan dari Ethiopia, Kenya, Filipina, Malaysia, Pakistan, dan China.
Terdapat juga warga negara dari Indonesia, Nepal, Taiwan, Uganda, Laos, Brasil, Burundi, Tanzania, Bangladesh, Kamboja, Sri Lanka, Nigeria, Ghana, dan India.
Media-media Thailand melaporkan kelompok pemberontak Democratic Karen Benevolent Army (DKBA) bertanggung jawab atas operasi penyelamatan dan membawa para korban ke perbatasan Thailand.
Myanmar, Kamboja, dan Laos selama ini dikenal sebagai sarang sindikat kriminal yang mempekerjakan secara paksa ratusan ribu orang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan industri penipuan daring ini mendapatkan puluhan miliar dolar AS dari korban di berbagai belahan dunia.
Razia terhadap pusat-pusat penipuan di Myanmar mulai dilakukan pada 2023 usai pemerintah China memprotes keberadaan kasino dan pusat penipuan di negara bagian Shan, perbatasan Myanmar-China.
Kelompok pemberontak Myanmar yang dekat dengan Beijing pun meluncurkan operasi dan merepatriasi sekitar 45.000 warga negara China yang terlibat penipuan.
Wakil Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai menyebut masih ada pekerja industri penipuan yang akan direpatriasi melalui Thailand.
Namun, Bangkok disebutnya hanya mau menerima pekerja yang siap direpatriasi ke negara asalnya.
"Saya telah memperjelas bahwa Thailand tidak akan mendirikan shelter lagi," kata Phumtham Wechayachai dikutip Associated Press.
Phumtham menambahkan, WNA yang baru-baru ini diseberangkan dari Myanmar akan diperiksa terlebih dulu sebelum dipulangkan.
Otoritas Thailand hendak mencari tahu apakah mereka korban TPPO dan mendapatkan informasi yang berguna untuk penyelidikan.
Thailand telah mendirikan sembilan kamp pengungsian di dekat perbatasan Myanmar.
Kamp-kamp pengungsian tersebut menampung lebih dari 100.000 orang, kebanyakan dari etnis Karen yang menjadi minoritas di Myanmar.
Baca Juga: Serikat Buruh Migran Demo Kedubes Myanmar, Tuntut Industri Penipuan Daring yang Jebak WNI Ditindak
Bagikan perspektif Anda, sumbangkan wawasan dari keahlian Anda, dan berkontribusilah dalam memperkaya pemahaman pembaca kami.
Sumber : Kompas TV
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.