"Kami rakyat yang perjuangannya adil, dan akan tetap adil, dan kami akan terus melawan penahanan administratif," ujarnya seperti dilansir kantor berita Palestina, WAFA, Senin (29/8/2022).
Awawda, ayah empat anak, ditahan pihak Israel sejak Desember 2021. Dia berada di bawah penahanan administratif Israel selama enam bulan. Awawda melanjutkan mogok makannya untuk memprotes penahannya pada 2 Juli 2022.
Sebelumnya ia telah melakukan mogok makan selama 111 hari sebelum akhirnya menghentikannya setelah Israel berjanji akan membebaskannya.
Namun otoritas pendudukan Israel melanggar janjinya, dan justru memperpanjang penahanan administrasi Awawda selama empat bulan.
Baca Juga: Kemlu Palestina Kecam Israel yang Izinkan Penduduknya Bobol Masjid Al Aqsa lewat Lion Gate
Hingga kini, polisi Israel masih terus melakukan penangkapan secara gegabah. WAFA, hari ini, Selasa, melaporkan 10 warga Palestina ditangkap. Dua di antaranya anak di bawah umur, ditahan pasukan Israel di pintu masuk barat kota Silwad, wilayah Ramallah.
Pasukan Israel menutup pintu tersebut, lalu mengerahkan penembak jitu di beberapa atap rumah.
Untuk mengatasi agresi yang berkelanjutan, Palestina lantas meminta bantuan Uni Eropa agar ikut andil dalam penanganan masalah ini.
Wakil Perdana Menteri dan Kepala Departemen Hubungan Internasional Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Ziad Abu Amr, bertemu Perwakilan Uni Eropa untuk Palestina, Sven Kuehn von Burgsdorff.
Abu Amr meminta Uni Eropa lebih aktif melindungi solusi dua negara dan mendukung pembentukan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
Dia menekankan perlunya Uni Eropa untuk segera campur tangan demi mengakhiri pendudukan Israel dan mendukung upaya Palestina untuk mendapatkan status keanggotaan penuh di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Baca Juga: Geger Politik Tewaskan 15 Orang, Ulama Irak Protes dengan Mogok Makan
Sumber : Kompas TV/WAFA/Al Jazeera
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.