> >

Alissa Wahid Imbau Elite Politik Tidak Provokasi dan Spekulasi Usai Penganiayaan Ade Armando

Peristiwa | 12 April 2022, 05:43 WIB
Putri tertua Gus Dur, Alissa Wahid, menjadi salah satu ketua bidang di PBNU pertama dalam sejarah NU. Ia juga meminta para elite tidak melakukan provokasi usai pengeroyokan Ade Armando (Sumber: Kompas TV)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Putri Gus Dur, Alissa Wahid, mengecam tindakan penganiayaaan yang dialami Ade Armando di tengah masa aksi demontrasi, Senin (11/4/2022).

Tindakan tersebut, menurutnya, sangat bertentangan dengan berbagai prinsip, mulai hukum, moral, hak asasi manusia, hingga agama.

“Mengutuk dan mengecam segala bentuk kekerasan kepada dan oleh siapa pun. Kekerasan itu justru menutupi dan menenggelamkan aspirasi masyarakat yang dilindungi konstitusi,” kata Alissa Wahid dalam rilisnya diterima Kompas.tv Senin malam (11/4/2022).

Alissa Wahid juga juga mengimbau agar para elite politik tidak melakukan provokasi dan spekulasi hanya demi kekuasaan belaka. 

“Atas nama Jaringan GUSDURian, menghimbau kepada elite politik untuk tidak melakukan provokasi dan spekulasi politik yang merusak konstitusi dan kemaslahatan bangsa hanya demi kekuasaan,” tambahnya.

Alissa Wahid yang juga Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian meminta aparat untuk mengungkap dan mengusut para pelaku kekerasan tersebut.

“Meminta aparat untuk mengusut tuntas penganiayaan tersebut dan memberikan sanksi kepada pelaku sesuai ketentuan undang-undang,” ujarnya.

Baca Juga: Saksi Mata: Pengeroyok Ade Armando Bukan Mahasiswa

Ketua Tanfidziyah PBNU juga mengajak elemen masyarakat untuk menyampaikan pendapat dengan nir-kekerasan dan berfokus pada penyaluran aspirasi.

“Aksi kekerasan hanya akan menjauhkan substansi aksi dan menyebabkan sentimen negatif dari masyarakat,” ucapnya.

Baca Juga: Ade Armando Dirawat di RS Siloam Semanggi, Rekan Jelaskan Tujuan Ade Datang ke Gedung DPR

Seperti diberitakan Kompas.tv sebelumnya, pada 11 April 2022, elemen mahasiswa dan warga sipil melakukan unjuk rasa di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta.

Aksi ini dilakukan sebagai respons atas berbagai spekulasi politik oleh pejabat publik dalam beberapa minggu terakhir, terutama menyoal perpanjangan masa presiden dan amandemen UUD 1945.

Aksi ini menuntut agar elemen pemerintah mematuhi konstitusi dengan tetap menyelenggarakan pemilihan umum pada waktunya dengan tetap membatasi masa jabatan presiden maksmal dua periode.

Di tengah aksi, muncul provokasi yang menyebabkan terjadinya aksi kekerasan oleh terduga peserta aksi kepada Ade Armando. Dalam video yang banyak beredar di media sosial, Armando mendapat penganiayaan dan pelecehan yang membuatnya mengalami luka-luka.

Penulis : Dedik Priyanto Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV


TERBARU