> >

Eks Wakil Raisi Mundur dari Pencalonan Presiden Iran, Demi Menguatnya Koalisi Garis Keras

Kompas dunia | 27 Juni 2024, 11:25 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. (Sumber: IRNA)

Selain itu, satu-satunya reformis, Masoud Pezeshkian, seorang dokter ahli operasi jantung, mengasosiasikan dirinya dengan pemerintahan Presiden Hassan Rouhani yang dikenal moderat, dan mencapai kesepakatan nuklir 2015 dengan negara kekuatan dunia.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah menegaskan sikap tak mengizinkan perempuan atau semua orang yang menyerukan perubahan radikal negara itu untuk ikut memberikan suara.

Namun, Khamenei dalam beberapa hari terakhir telah menyerukan partisipasi maksimal dalam pemilihan presiden.

Ia juga memberikan pesan terselubung terhadap Pezeshkian dan sekutunya agar tidak bergantung pada Amerika Serikat (AS).

Sikap apatis masyarakat terhadap pemilu meluas di Teheran usai kecelakaan helikopter yang menewaskan Raisi, Mei lalu.

Baca Juga: Jenderal AS Ingatkan Israel, Perang Lawan Hizbullah Bakal Bikin Iran Turun Tangan

Setelah janji dari kesepakatan nuklir yang membuka akses Iran ke seluruh dunia hampir satu dekade lalu, masyarakat Iran secara umum menghadapi kondisi ekonomi yang sulit.

Kondisi Timur Tengah yang jauh lebih tak menentu juga telah memperlihatkan pertama kalinya Iran melakukan serangan mematikan ke Israel.

Teratasnya pilihan dalam pemilu, serta meluasnya ketidakpuasan atas tindakan keras Iran terhadap perempuan negara itu mengenai kewajiban berjilbab, membuat beberapa orang mengatakan mereka tak akan memilih.

Penulis : Haryo Jati Editor : Tito-Dirhantoro

Sumber : Associated Press


TERBARU