Kompas TV kolom opini

Kudeta di Tumapel

Sabtu, 6 Februari 2021 | 15:11 WIB
kudeta-di-tumapel

 

Ilustrasi: Rahwana, lambang angkara murka. (Sumber: istimewa/Triaskun.id)

Oleh: Trias Kuncahyono, Jurnalis Harian Kompas

Malam sudah larut. Langit kehitam-hitaman. Bahkan, beberapa bagian hitam kelam. Awan pun sudah sangat tua, seakan tak mampu lagi menanggung beban begitu berat. Tinggal menunggu waktu, awan melepaskan hujan ke bumi. Angin terus bertiup, menggesek dedaunan, menarik-narik batang bambu dan menimbulkan suara berderit. Menyayat.

Cuaca malam itu, sangat tidak bersahabat. Malam  murung, seakan sudah merasakan akan datangnya sebuah tragedi. Tragedi yang tidak hanya akan mengoyak kehidupan tetapi juga mengawali sejarah baru wilayah Pakuwon Tumapel. Yakni, sebuah pakuwon di sebelah timur Gunung Kawi. Tumapel berada di wilayah yang dahulu bernama Kutobedah—sekarang bernama Kalurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkalang, Malang (B Suprapto: 2015)—sebenarnya pakuwon kecil saja. Namun, karena dahulu menjadi pusat pemerintahan Jenggala, maka Tumapel meski pakuwon kecil, memiliki makna penting.

Sang Akuwu— sebenarnya hanya pejabat di atas buyut atau kepala desa, jabatan terendah dalam pemerintahan di zaman Kerajaan Kediri—Tunggul Ametung, sudah masuk Bilik Agung. Rasa puas yang menguasai hatinya—berhasil memukul mundur pasukan Kediri dan akan memiliki anak dari permaisurinya yang cantik jelita anak Mpu Purwa, Ken Dedes—menjadi obat tidurnya. Tunggul Ametung tertidur pulas.

Tiba-tiba hujan turun begitu deras. Pintu langit yang gelap seakan terbuka, dan air tertumpah semuanya. Di tengah guyuran hujan deras itu, terdengar teriakan dan raungan Ken Dedes dari Bilik Agung. Ken Dedes melihat suaminya, Akuwu  Tunggul Ametung tergeletak di atas peraduan bersimbah darah. Sementara Kebo Hijo, seorang perwira yang pernah menjadi tangan kanan Tunggul Ametung, berdiri di sisi peraduan, tangan kanannya memegang keris yang berlumurah darah.

Teriakan dan raungan Ken Dedes membuat suasana menjadi hiruk-pikuk. Para prajurit dan pengawal Akuwu berlarian menuju Bilik Agung. Di sana, mereka melihat Kebo Hijo memeluk Ken Dedes dari belakang dengan kanan memegang keris hendak ditusukkan. Ketika tangan Kebo Hijo berayun hendak menusukkan keris ke dada Ken Dedes, tiba-tiba entah dari mana munculnya, sebuah pukulan keras menghantam kepala Kebo Hijo. Kebo Hijo jatuh tersungkur. Keris lepas dari tangannya. Mata Ken Dedes terkesiap melihat lelaki yang baru saja menyelamatkan dirinya. “Arok,” teriaknya penuh kelegaan.

Penulis : Fadhilah





BERITA LAINNYA


Close Ads x
NEWSTICKER
01:54
PERDANA MENTERI BENJAMIN NETANYAHU MENYATAKAN ISRAEL AKAN TINGKATKAN SERANGAN KE JALUR GAZA, HAMAS   MUI MEMPERSILAKAN WILAYAH ZONA HIJAU COVID-19 MELAKSANAKAN SHALAT IDUL FITRI DI MASJID ATAU MUSHALA   JELANG LEBARAN, PERTAMINA TAMBAH 3 JUTA TABUNG ELPIJI 3 KG DI SULAWESI   PT ANGKASA PURA: LARANGAN MUDIK MENYEBABKAN JUMLAH PENUMPANG BANDARA DJUANDA TURUN DRASTIS DUA HARI JELANG LEBARAN   JUMLAH MAHASISWA MMTC YOGYAKARTA YANG DINYATAKAN POSITIF COVID-19 BERTAMBAH MENJADI 18 ORANG    KEMNAKER MENCATAT ADA 1.586 PENGADUAN THR SEJAK 20 APRIL HINGGA 10 MEI 2021    SATLANTAS POLRES METRO TANGERANG KOTA MENYEKAT 164 KENDARAAN PADA HARI KEENAM LARANGAN MUDIK LEBARAN    SATGAS COVID-19 INGATKAN MASYARAKAT TAK GELAR “OPEN HOUSE” ATAU HALALBIHALAL DI LINGKUNGAN KANTOR   BAZNAS KOTA TANGERANG TELAH MENERIMA ZAKAT FITRAH SEBANYAK RP 1,3 MILIAR    WALI KOTA TANGERANG ARIEF WISMANSYAH MENYATAKAN TPU SELAPAJANG AKAN DITUTUP MULAI 12-16 MEI 2021   KEMENHUB: PEMUDIK YANG MENGGUNAKAN SEPEDA MOTOR PALING BANYAK KELUAR DARI TITIK PENYEKATAN    KEMENHUB: JELANG IDUL FITRI, LEBIH DARI 138.000 MOBIL DAN MOTOR TINGGALKAN JAKARTA    GUBERNUR DKI SEBUT KEPALA DAERAH KAWASAN AGLOMERASI JABODETABEK DAN CIANJUR SEPAKAT ANJURKAN SHALAT ID DI RUMAH   MAKSIMALKAN PENJAGAAN SELAMA 24 JAM, 260 PETUGAS DISIAGAKAN DI TITIK PENYEKATAN KEDUNGWARINGIN, BEKASI