Kompas TV internasional kompas dunia

Perdana Menteri Irlandia Meminta Maaf Atas Kematian Ribuan Bayi di Institusi yang Dikelola Gereja

Kamis, 14 Januari 2021 | 01:25 WIB
perdana-menteri-irlandia-meminta-maaf-atas-kematian-ribuan-bayi-di-institusi-yang-dikelola-gereja
Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin. Foto diambil pada 10 Desember 2020. (Sumber: AP Photo / John Thys)

LONDON, KOMPAS.TV – Perdana Menteri (PM) Irlandia mengeluarkan pernyataan maaf resmi pada Rabu (13/1) bagi ribuan perempuan dan anak-anak mereka yang berada di luar ikatan pernikahan yang telah menanggung penderitaan, malu dan stigma negatif pada institusi-institusi yang dikelola oleh gereja. Lebih lanjut ia menyatakan, pemerintahannya bertekad memulai mengungkap kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan negara.

Permintaan maaf Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin diumumkan sehari setelah sebuah laporan akhir penyelidikan mengungkap kematian 9.000 bayi dan anak-anak pada 18 rumah ibu-dan-bayi – yang menampung para perempuan dan gadis yang hamil di luar ikatan pernikahan – sepanjang abad ke-20. Dilansir dari Associated Press, penyelidikan tersebut merupakan bagian dari proses penghitungan di Irlandia yang mayoritas warganya memeluk agama Katolik Roma, di mana institusi yang dikelola gereja kerap dikaitkan dengan sejarah pelecehan.

Baca Juga: Detik-detik Insiden Penembakan Jurnalis di Irlandia Utara

Martin menyatakan, Irlandia harus mengakui skandal tersebut merupakan bagian dari sejarah nasional dan menunjukkan penyesalan mendalam. Mewakili pemerintah Irlandia, Martin meminta maaf atas kesalahan besar dan mendalam yang dilakukan dalam skala generasi oleh negara terhadap kaum ibu dan bayi mereka di institusi-institusi tersebut.

“Mereka seharusnya tidak berada di sana,” ujar Martin dalam parlemen Irlandia. “Negara telah lalai memperlakukan Anda, para ibu dan anak-anak di rumah-rumah institusi tersebut.”

Baca Juga: Inggris Kembali Terapkan Lockdown Hingga Pertengahan Februari

Lebih lanjut Martin mengatakan, sungguh merupakan fakta menyedihkan karena pada saat itu, pihak berwenang mengetahui adanya tingkat kematian yang tinggi pada rumah-rumah ibu-dan-bayi tersebut, namun tidak melakukan langkah-langkah intervensi. Laporan tersebut menyatakan, 15% dari anak-anak yang lahir di rumah-rumah tersebut meninggal akibat penyakit dan infeksi seperti flu perut, dan jumlahnya dua kali lipat dari tingkat kematian anak-anak di seluruh negeri.

Penulis : Vyara Lestari


KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!


BERITA LAINNYA


Close Ads x
NEWSTICKER
00:10
KETUA DPD LA NYALLA MATTALITTI DORONG PENGOLAHAN UDANG JADI KOMODITI PRIORITAS   BNN KOTA TANGERANG SELATAN SOROTI TINGGINYA PEREDARAN SABU DAN GANJA DI CIPUTAT   KEMENTERIAN KESEHATAN: SERTIFIKAT VAKSIN JADI SYARAT JALAN BELUM BERSIFAT FINAL   KAPUSKES TNI MAYJEN TUGAS RATMONO AJAK WARGA ANTUSIAS VAKSINASI COVID-19   WALI KOTA KEDIRI ABDULLAH ABU BAKAR AJAK PENYINTAS COVID-19 DONOR PLASMA   DINKES DKI: PENGUATAN SINERGI ANTARPIHAK SANGAT DIPERLUKAN UNTUK HADAPI KLASTER KELUARGA   PRESIDEN JOKOWI: KITA HARUS OPTIMISTIS AWAL 2021 JADI TITIK BALIK PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA   KETUA DPD LA NYALLA MATTALITTI DORONG PEMERINTAH CEPAT ATASI BANJIR DI KALIMANTAN SELATAN   PRESIDEN JOKOWI: BULAN INI CURAH HUJAN EKSTREM, WASPADAI BANJIR DAN TANAH LONGSOR   PRESIDEN JOKOWI: SAYA TELAH PERINTAHKAN VAKSINASI COVID-19 TUNTAS SEBELUM AKHIR 2021   TIM SAR MASIH CARI MEMORI CVR SRIWIJAYA AIR SJ-182   TIM DVI TELAH TERIMA SAMPEL DNA 62 KELUARGA KORBAN SRIWIJAYA AIR SJ-182   KEMENSOS SALURKAN BANTUAN RP 1,7 MILIAR UNTUK KORBAN GEMPA DI SULAWESI BARAT   POLRI KIRIM PESAWAT HINGGA PERSONEL UNTUK BANTU PENANGANAN GEMPA DI SULAWESI BARAT