Kompas TV bbc bbc indonesia

Mencegah dan Menghentikan Penyebaran Informasi Menyesatkan Tentang Virus Corona

Senin, 28 Desember 2020 | 23:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.TV - Pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, banyak orang menyalahgunakan akses mereka ke media sosial. Salah satunya untuk menyebarkan informasi yang menyesatkan, bahkan hoaks, tentang virus Corona.

Pertanyaan besar yang muncul kemudian adalah, mengapa orang ingin menyebarkan berita macam itu?

Selama pandemi, banyak postingan dan pesan menyesatkan di Instagram, TikTok, dan WhatApp. Pelakunya bisa berasal dari latar belakang apapun, termasuk politisi.

Hal-hal menyesatkan dan klaim-klaim itu kemudian tersebar di media sosial, atau bahkan langsung ditiru oleh orang-orang yang mendengarnya. 

Terdapat tiga aturan utama untuk menghentikan penyebaran informasi yang salah karena.

Aturan pertama adalah selalu untuk berhenti dan berpikir sebelum Anda berbagi apa pun. Ketika Anda melihat sesuatu, jedalah sejenak.

Jangan langsung bereaksi dan jangan langsung meneruskan pesan itu ke orang lain. Benar-benar merenungkan tentang apa itu, siapa yang membagikannya, apakah mereka memiliki kepentingan, dan alasan mengapa mereka membagikan informasi tersebut.

Aturan kedua adalah berpikir tentang bagaimana hal itu membuat anda merasa, karena umumnya jenis informasi yang salah yang menjadi viral adalah hal-hal yang membuat anda merasa benar-benar marah atau benar-benar marah, atau bahkan benar-benar bersemangat, dan itu adalah informasi akurat yang sebenarnya cukup membosankan.

Jadi, anda harus benar-benar berhenti dan berpikir tentang bagaimana hal itu membuat Anda merasa.

Hal penting lainnya yang harus dilakukan adalah memeriksa sumber Anda. Informasi yang menyesatkan, seringkali tidak dikaitkan dengan siapa pun, atau itu tetapi tampaknya sangat tidak jelas.

Penting untuk melihat, dan memeriksa apa yang terjadi, di situs resmi WHO, atau badan kesehatan dan institusi lain yang terpercaya untuk mendapat informasi yang tepat.

Penulis : Aryo bimo





BERITA LAINNYA


Close Ads x
NEWSTICKER
06:09
KAPOLRI DAN KOMNAS HAM TEKEN NOTA KESEPAHAMAN SOAL PENEGAKAN HAM DI INDONESIA   PT MRT JAKARTA TEKEN KONTRAK PROYEK FASE 2A BUNDARAN HI-KOTA SENILAI RP 4,6 TRILIUN   KETUA SATGAS DONI MONARDO: KEPULANGAN PERANTAU KE KAMPUNG HALAMAN MENINGKATKAN KASUS COVID-19   SATGAS: KASUS KONFIRMASI POSITIF DAN KEMATIAN AKIBAT VIRUS KORONA MINGGUAN MENGALAMI KENAIKAN   GUBERNUR DKI ANIES BASWEDAN PASTIKAN KEBUTUHAN WARGA KORBAN KEBAKARAN DI TAMAN SARI TERPENUHI   POLISI BERENCANA DIRIKAN 2 POSKO PEMERIKSAAN DI KOTA TANGERANG SELAMA MASA LARANGAN MUDIK LEBARAN   PEMKOT JAKARTA PUSAT AKAN TUTUP JEMBATAN YANG JADI AKSES UNTUK TAWURAN DI JOHAR BARU   KEMENDIKBUD: KAMUS SEJARAH YANG TAK CANTUMKAN NAMA TOKOH PENDIRI NU KH HASYIM ASY'ARI SUDAH DITARIK DARI SITUS   POLISI BERKOORDINASI DENGAN DIREKTORAT IMIGRASI UNTUK CABUT PASPOR JOZEPH PAUL ZHANG   KEMENTERIAN KESEHATAN: ADA KEMUNGKINAN VAKSINASI COVID-19 LIBUR SELAMA IDUL FITRI   MENRISTEK BAMBANG BRODJONEGORO: TEKNOLOGI LISTRIK YANG GUNAKAN PEMBANGKIT ENERGI SAMPAH HARUS TERUS DIKEMBANGKAN   DEWAS KPK MINTA PIMPINAN KPK USUT DUGAAN BOCORNYA INFORMASI PENGGELEDAHAN DI DUA LOKASI DI KALSEL   PPKM DIPERPANJANG, WAGUB DKI: TAK ADA PERUBAHAN ATURAN KECUALI JAM BUKA RESTORAN   KEMENKOMINFO SEBUT JOZEPH PAUL TETAP DAPAT DIJERAT UU ITE MESKI BERADA DI LUAR NEGERI