Kompas TV kolom opini

Dalang Jemblung

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 13:12 WIB
dalang-jemblung
Pewayangan. (Sumber: Kompas.id)

Bukankah tidak ada satupun gerakan massa -dan apalagi itu anarkis- yang muncul begitu saja, ibarat kata muncul dari dalam bumi? Tidak ada pula tindakan anarkis, yang dilakukan banyak orang, dan di mana-mana yang jatuh dari langit. Bukankah, ada asap ada api? Tetapi, selama ini yang disebut “dalang” nyaris tidak pernah diungkapkan.

Orang mengatakan, becik ketitik ala ketara, perbuatan baik dan buruk pasti akan terlihat nantinya. Begitu kata peribahasa. Sebab, lupus pilum mutat, non mentem, serigala mengganti bulunya, bukan wataknya (sehingga ada serigala berbulu domba dan serigala berbulu ayam sekalipun; tetapi wataknya tetaplah serigala, karena memang dia serigala). Atau vulpem pilum mutat, non mores, seekor rubah mungkin mengubah bulunya, tetapi bukan tipuannya.

Mengapa serigala tetaplah serigala walau berganti bulu, rubah tetap rubah meski juga berganti bulu? Kata orang-orang tua yang bijak, ciri wanci lali ginawa mati, watak buruk seseorang tidak akan hilang sampai mati. Dan, orang tahu semua itu. Sebab, tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Perbuatan yang tidak benar pada akhirnya akan terbongkar juga.

Karena itu, sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti, orang yang melakukan perbuatan buruk meskipun kuat, digdaya, dan berkuasa, pasti akan kalah dengan orang yang berbuat baik. Itu sebuah sikap penghibur diri, yang mengharapkan adanya sikap ksatria dari seorang auctor intellectuallis mengaku bersalah.

Sebab, Ketika pentas wayang sudah selesai -seluruh cerita dibeberkan, kekuatan kejahatan dengan tokoh-tokohnya yang juga jahat berhasil disingkirkan, ditumpas, kelir (layar) digulung, wayang dimasukkan ke dalam kotak, gamelan diringkesi, dalang pisah dengan wayang, bléncong juga pisah dengan wayang- dalang, sang auctor intellectualis, akan seperti “dalang jemblung” yang ngomong sendiri, nembang sendiri, menyuarakan gamelan sendiri dari mulutnya.

Semua tidak ada artinya, bila bléncong sudah mati. Tetapi, kebenaran meski sering dikorbankan tidak akan pernah mati. Dalang tetaplah dalang, sama dengan serigala tetaplah serigala walau berganti-ganti mantel yang dipakainya.

Disadur dari laman triaskun.id

Editor : Hariyanto Kurniawan




BERITA LAINNYA


Close Ads x
NEWSTICKER
10:02
KEMENTERIAN PPPA INGATKAN PROTOKOL KESEHATAN TETAP HARUS DIPATUHI DI RUMAH   DUA SPESIES KEPITING BARU BERNAMA TYPHLOCARCINOPS ROBUSTUS DAN RAOULI DITEMUKAN DI AREA KERJA FREEPORT MIMIKA   KAPOLDA SULAWESI SELATAN IRJEN MERDISYAM SEBUT DEMO DI MAKASSAR DISUSUPI ALIANSI MAKAR   POLISI TANGKAP 13 ORANG YANG DIDUGA MERUSAK FASILITAS UMUM SAAT DEMO TOLAK UU CIPTA KERJA DI MAKASSAR, SULSEL   JALUR PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA BAMBANGAN DIBUKA MULAI MINGGU, 25 OKTOBER 2020   WALI KOTA AMBON WAJIBKAN ASN DAN MASYARAKAT YANG INGIN MENEMUINYA HARUS TUNJUKKAN HASIL TES CEPAT KORONA   STAFSUS MENTERI BUMN ERICK THOHIR, ARYA SINULINGGA: VAKSIN KORONA UNTUK MENCEGAH BUKAN MENGOBATI   PER 14 OKTOBER, 155 PERUSAHAAN PEMINJAMAN DARING TERDAFTAR DI OJK   TERIMA STIMULUS DARI PEMERINTAH, BANDARA SOEKARNO-HATTA BEBASKAN "AIRPORT TAX" MULAI HARI INI   BNPB MINTA SEMUA KEPALA DAERAH BERSIAGA DI MALAM HARI GUNA ANTISIPASI ANCAMAN DAN DAMPAK BENCANA LA NINA   BNN SEBUT MODUS PENGEDARAN NARKOBA DI MASA PANDEMI DIKIRIM LEWAT BANTUAN SEMBAKO   SIANG INI, BARESKRIM POLRI GELAR PERKARA KASUS KEBAKARAN GEDUNG KEJAKSAAN AGUNG   KETUM PBNU SAID AQIL SIROJ AKAN AJUKAN UJI MATERI UU CIPTA KERJA KE MK   JPU KPK MENDAKWA MANTAN SEKRETARIS MA NURHADI DAN MENANTU TERIMA SUAP DAN GRATIFIKASI SENILAI TOTAL RP 83 MILIAR