Kompas TV kolom opini

Sahabatku, Jangan Ikut-ikut Tidak Waras

Sabtu, 3 Oktober 2020 | 15:56 WIB
sahabatku-jangan-ikut-ikut-tidak-waras
Ilustrasi (Sumber: Tribunnews)

Oleh: Trias Kuncahyono, Jurnalis Harian Kompas

Sahabatku, apakah sekarang ini yang dinamakan Zaman Kalabendu? Yakni  zaman seperti yang dahulu dimaksudkan oleh Pujangga Rakyat -begitu Bung Karno menyebut Kanjeng Ngabehi Ronggowarsito, yang hidup di abad kesembilan belas?

Di zaman itu, roh-roh jahat gentayangan merasuki siapa saja, tanpa kecuali, bisa rakyat biasa dan juga bisa para pejabat tinggi negara; bisa wong cilik yang tidak dianggap dan bisa juga elite masyarakat yang terhormat dan merasa dirinya terhormat; bisa pengangguran dan juga bisa elite partai politik; bisa umat biasa saja dan bisa juga tokoh agama yang sehari-hari mengkhotbahkan nilai-nilai moral dan etika; bisa orang sipil dan juga aparat keamanan. Siapa saja bisa dirasuki dan dikuasai roh jahat.

Karena itu tidak aneh, sahabatku, di zaman seperti itu, orang yang semula kelihatan baik, tiba-tiba karena kesambet, ketempelan, kesurupan roh jahat bisa menjadi jahat pula. Bahkan, di zaman seperti itu, orang-orang yang memang sebelumnya baik, bisa menjadi jahat karena kutukan roh jahat. Orang yang dahulu saleh atau sekurang-kurangnya kelihatan saleh, dalam zaman seperti itu, akan berobah total tidak lagi saleh atau hanya kelihatan saleh secara badaniah saja.

Dalam Serat Sabdatama, Ronggowarsito secara sepintas menyebut Zaman Kalabendu (dalam bentuk tembang Gambuh). Apa yang menandai munculnya Zaman Kalabendu?

Demikian Ronggowarsito menulis: Ilang budayanipun/ Tanpa bayu weyane ngalumpuk/ Sakciptane wardaya ambebayani/ Ubayane nora payu/ Kari ketaman pakewoh/ Lenyap kebudayaannya. Hilanglah kemuliaan akhlaknya/ Tiada lagi kebaikan, selalu buruk sangka/ Apa yang dipikir serba membahayakan/ Sumpah dan janjinya tiada yang percaya/ Akhirnya menanggung malu sendiri/ Lenyaplah keluhuran budinya.

Lenyapnya keluhuran budi itu bisa terjadi karena antara lain hilangnya etika sosial dalam pergaulan hidup bersama. Dalam dunia pewayangan ada tokoh yang  sifat maupun perbuatannya tidak bisa dicontoh. Yakni Sengkuni, yang menjadi patih Kerajaan Astinapura.

Editor : Hariyanto Kurniawan

1
2
3



BERITA LAINNYA


Close Ads x
NEWSTICKER
07:33
MENKO POLHUKAM: PERLU SISTEM PEMERINTAHAN BERBASIS ELEKTRONIK UNTUK WUJUDKAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BERSIH    MENKO POLHUKAM SEBUT INDONESIA DAN AUSTRALIA PERTEGAS KERJA SAMA DI BIDANG HUKUM DAN KEAMANAN   POLDA JABAR KERAHKAN 14.000 POLISI UNTUK MENJAGA LIBUR CUTI BERSAMA AKHIR OKTOBER 2020   MENKO BIDANG PEREKONOMIAN AIRLANGGA HARTARTO SEBUT IZIN PENGGUNAAN VAKSIN COVID-19 SINOVAC TETAP DARI BPOM   WALI KOTA SURABAYA TRI RISMAHARINI IMBAU WARGANYA TIDAK BEPERGIAN KE LUAR KOTA SELAMA LIBUR PANJANG AKHIR OKTOBER    KEMENAG TEGASKAN DANA BANTUAN BAGI PESANTREN TIDAK BOLEH DIPOTONG   POLDA METRO JAYA KERAHKAN 2.999 PERSONEL DI PUSAT PERBELANJAAN, TEMPAT WISATA, & TITIK KERAMAIAN SAAT LIBUR PANJANG   MENAKER MENILAI UNJUK RASA YANG DILAKUKAN DALAM KONDISI PANDEMI COVID-19 TIDAK BIJAK   KTT PARA PEMIMPIN NEGARA-NEGARA G-20 DIJADWALKAN DISELENGGARAKAN SECARA VIRTUAL 21-22 NOVEMBER 2020   BAWASLU MENCATAT ADA 306 PELANGGARAN PROTOKOL KESEHATAN DALAM KAMPANYE PILKADA 2020   PEMPROV DKI JAKARTA MENYATAKAN AKAN MELAKSANAKAN KEPUTUSAN PEMERINTAH YANG TIDAK NAIKKAN UMP 2021   KEMENSOS SALURKAN BANTUAN SOSIAL KEPADA 18,8 JUTA KELUARGA PENERIMA MANFAAT (KPM) PADA TAHUN 2021   HAKIM KABULKAN GUGATAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG YANG DIAJUKAN OTTO HASIBUAN TERHADAP DJOKO TJANDRA   BAWASLU MENGATAKAN PELANGGARAN YANG DILAKUKAN ASN TERBANYAK TERJADI DI MEDIA SOSIAL