Sederet Kontroversi Cyber Army MUI DKI Bela Anies: Potensi Politis Partisan hingga Dugaan Dana Hibah
Pro kontra | 21 November 2021, 09:52 WIBJAKARTA, KOMPAS.TV - Kontroversi mengiringi pembentukan Cyber Army yang dibikin MUI DKI bela Anies Baswedan jika terjadi serangan buzzer. Mulai soal dugaaan dana hibah hingga potensi politis dan partisan pembentukan cyber Army ini.
Dalam situs resmi MUI, Ketua Umum MUI DKI Jakarta Munahar Muchtar menjelaskan, MUI DKI bisa membela dan membantu Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan yang telah bekerja keras untuk masyarakat ibu kota.
Jika para buzzer mencari kesalahan Anies, Infokom mengangkat keberhasilan Anies baik itu tingkat nasional maupun internasional.
“Beliau ini termasuk 21 orang Pahlawan Dunia. Berita- berita saya minta MUI DKI yang mengangkatnya karena kita mitra kerja dari Pemprov DKI Jakarta,” kata Munahar dalam sebuah acara yang digelar Infokum MUI DKI.
Baca Juga: Pengamat Jelaskan 3 Poin Krusial Terkait Cyber Army Bikinan MUI DKI untuk Bela Anies dan Ulama
Berikut ini beberapa deret kontroversi Cyber Army MUI DKI Bela Anies
Dugaan Dana Hibah untuk Cyber Army
Terkait dugaan dana hibah dari APBD Pemprov DKI Jakarta yang dikaitkan dengan pembentukan pasukan Cyber Army MUI DKI Jakarta, Ketum MUI DKI Munahar menjelaskan, anggaran itu tidak digunakan untuk mendanai pasukan siber, tapi untuk membiayai pelaksanaan program kerja serta kegiatan operasional MUI.
"Dana hibah hanya untuk melaksanakan program kerja serta operasional MUI, dari tingkat provinsi, kota, kecamatan, hingga kelurahan," ujarnya.
Menurut Munahar, orang yang menghubungkan pembentukan tim siber dengan dana hibah tak paham tentang MUI dan tak mengerti soal tugas MUI.
Baca Juga: Ketua MUI Jakarta Bantah Pembentukan Cyber Army Terkait Dana Hibah Pemprov DKI
Potensi Politis dan Partisan
Pengamat politik Islam dari The Political Literacy, Muhammad Hanifuddin menilai keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta membentuk tim Siber untuk membantu ulama dan membela Anies Baswedan dari serangan buzzer atau sejenisnya perlu diapresiasi.
Penulis : Dedik Priyanto Editor : Purwanto
Sumber : Kompas TV